Mei 06, 2009

Orientasi Ke Malang Jawa Timur

HKBP telah menetapkan tahun 2009 tahun Diakonia HKBP dalam terang sub thema: usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu kubuang dan doakan sebab kesejahteraan mereka adalah kesejahteraahnmu juga (Yer 29:17).

Pradigma Pelayanan Gereja yang terkesan sekian lama, pradigma pelayanan internal, rutinitas dan lebih kepada tugas pelayanan ceremonial. Hal ini hendaknya berubah, kepedulian dengan sesama manusia yang menderita, sengsara, miskin, papa, korban ketidak adilan, hendaknya menjadi fokusperhatian perdana. Alam serta seluruh ciptaan yang hampir diambang kepunahan,
hendaknya turut mendapat perhatian. Sehingga bumi dan seluruh ciptaan Tuhan bersoraksorai, damai di sorga juga ada di bumi. Untuk itulah mengimplementasi tugas suruhan Tuhan, mewujudkan damai di bumi di samping peduli warga dan alam ciptaanTuhan, peningkatan tingkat kesejahteraan warganya serta membangun soraksorai,dikemas beberapa kegiatan seperti apa yang dipaparkan dalam buku panduan DiakoniaHKBP 2009.
Rasanya motivator terampil sungguh diperlukan untuk pelayanan mendorong serta memberdayakan dan menguatkan warga di berbagai desa, wilayah dan berbagai tempat.Untuk itu Kepala Departemen Diakonia HKBP, Pdt.Nelson Siregar, memberangkatkan 6Orang utusan pada 20-26 April 2009 orientasi Ke Malang Jawa Timur, dibantu olehBapak Manik.. Mereka yang diberangkatkan adalah Sekretaris Caritas EmergencyPdt.Eden Siahaan, Pdt.Samuel Sihombing, Pdt.David M Simatupang dari HKBP RessSidikalang VI, Pdt. B.Nababan Pdt HKBP Ress Sukandevi, Distrik VI Dairi, DuatSihombing Staf Petrasa Dairi Sidikalang, Direktur Pengmas HKBP, Pdt.ReinjustinGultom, dan Bendahra Pengmas HKBP Pdt.Jhony Sihite. Tujuh Orang yang diberangkatkan orientase ke Malang belajar tentang BBIB (Balai Besar Inseminasi Buatan)Malang, Memelihara ternak Sapi dan Kambing Perah dari pembenihan hingga paskapanen, milk processing, susu pasturisasi, kefir dan fermentase di Unit Peliharaan Ternak(UPT) Malang dan belajar dari peternak kambing kelompok Sumber Rejeki yangbershasil di dusun Tegal Rejo Malang. Biogas kombinasi Sapi dan Kambing diUniverstias Bariwijaya Malang, Agrowisata di Batu Malang dan Home industry diTumpang bekerjasama dengan GKJ (Greja Kristen Jawa) Malang.
Di celah celah dan di penghujung orientasi ke tujuh peserta menghadiri jamuan makandari warga dan parhalado HKBP Ressort Malang serta ibadah minggu bersama warga,sembari mengalunkan koor diakonia yang berjudul “O Sion Nauli Tongam do Ho”,sementara khotbah minggu di HKBP Malang disampaikan oleh direktur PengmasHKBP, Pdt.Reinjustin Gultom, dalam refleksi kotbah dari Mika 7:14-20, Allah yang kitakenal adalah Allah yang berbelas kasih. Dia dalam Yesus hingga mengorbankanhidupnya sampai pada tetes darah penghabisdan agar semua orang dan ciptaan lainnya,tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal (Yoh 3:16). Yang sudah menerima berkat
dan belaskasih, ditunggu dan dituntut menjadi saluran berkat bagi semua orang dan seluruh ciptaan. Kemiskinan yang kian membengkak, adalah akibat kebijakan penguasadan pengusaha yang tidak berpihak kepada rakyat kecil. Membengkaknya hutang sekitar2 milliar, malah kita disebut si juara satu berhutang di ADB (Asian Development Bank),kini setiap orang telah memiliki hutang Rp7,7 juta/orang semenjak dari kecilnya,bukankah ini kebijakan yang semakin mempermiskin rakyat?. Lihat pemanasan globalyang menjadikan bumi diambang kepunahan. Krisis financial semakin menciptabanyaknya pengangguran, dsb. Banyaknya manusia “homo homini lupus” serigala bagisesama, mengobjekkan manusia dan ciptaan lainnya demi mencari keuntungan dirinyasemata. Hiduplah menjadi berkat, berbelaskasih, berbagi bagi setiap orang dan seluruh ciptaan,supaya bumi, manusia dan semua ciptaan damai, sejahtera, sorak sorai ada di bumiseperti di sorga. Harapan kita mereka yang diberangkatkan ini akan menshare ilmu dan
keterampilan yang mereka peroleh berbagi dan menjadi berkat bagi warga, sehingga warga berdaya dan mampu keluar dari persoalan kemiskinannya sendiri. Yang diperolehhendaknya diimplementasi diterapkan di tempatnya, demi peningkatan tingkatkesejahteraan bagi rakyat., membangun sorak sorai bagi seluruh ciptaan dan demikemuliaan nama Tuhan, Kita tunggu.
Oleh : Pdt. Reinjustin Gultom (Direktur Pengmas HKBP)

Mei 05, 2009

Pengmas HKBP & CDS/CDRM Univ HKBP Nommensen Share & Discussion Programs


After introducing Pengmas HKBP to Rev.Totok, director of CDS/CDRM through cellular
phone, furthermore, on Mei 3, 2009 Mr totok visited Pengmas HKBP office and Farmer
field school in Tigadolok Simalungun Regency, North Sumatra, Indonesia. In that time
Rev.Reinjustin, director of Pengmas HKBP, shared and introduced the overall activities
of Pengmas HKBP such as: Motivating/organizing, Community Economy Development
(through: Agriculture/livestock, Animal’s offspring, Union Credit (CU), reforestry),
Information/ Networking and Supporting system. And In the other hand Rev.totok
introduced CDS/CDR programs also.

After long sharing and discussion of each its programs, Mr. Rev.Totok and Pengmas
HKBP visited also pilot project of Pengmas HKBP, integrated farming which is
combining with livestock and farmers field school, which is located near pengmas office.
Pengmas also introduced farmer’s field school program activities. This is the place for the
farmer to train how to cultivate organic agriculture and livestock, how to make compost
and organic pesticide, to train how to manage their own money in Credit Union etc.

TO handle the overall Pengmas program activities, Pengmas said that CDS is always
invited as a special lecture to train the participants. Mr Yanto Tampubolon, is then one of
expert of Agriculture from the CDS Univ. HKBP Nommensen, he was invited as a
trainer in Pengmas HKBP and Farmer field school activities. Hopely now and for the
future, it will be going continuously. We hope CDS/CDRM through Mr. Rev.Totok, do
not mind for paying full attention to help and support Pengmas and its all program
activities. Even now farmer Field school still new, which has dedicated by the head of
Diaconi Department of HKBP, Rev.Nelson Siregar, on Augustus 3, 2008, and donated by
LCA/ALWS,. Till now around 60 participants has graduated from the farmers field
school, even it’s classroom not so comfortable to live in. Pengmas always struggle in
order this school will train many farmers, which are never paying attention by the power
and government..

Hoping for the future. Through this school, farmers will go out from its poverty, and the
environment and all God Creature will be rejoice forever.

Pengmas and CDS/CDRM for the future will be take care good relationship and good
networking one another. Rev.Totok also hope that Farmer field school and it’s pilot
project of Pengmas it should be developed for the future, to extend the skill of the people
(participants) to cultivate from “hulu and hilir” (to know how to process from the
beginning: cultivation up to harvesting), he hopes may it is used as a length hand of CDS
to implemented its programs and to apply it’s vision and mission for the people. And
Pengmas HKBP said, that pengmas HKBP will ready as a contact person to help
CDS/CDR to extend their mission and vision, to make the people prosperous and to be
glorify of God, who created their creation.

Mei 04, 2009

BETERNAK BABI SISTEM KOREA DAN FENOMENA FLU BABI

Sungguh Allah menciptakan dunia ini dengan baik, tiada cacat satu apapun. Dia menciptakan semuanya baik, sehat walafiat , tiada satupun yang cacat dan sakit, termasuk ternak babi (Kej 1:31). Adam dan Eva yang ditugaskan Allah untuk mengolah taman Eden Allah, lihat keduanya tetap menjalin hubungan yang baik, mesra, dengan seluruh ciptaan Allah, Bukankah Adam dan Eva dekat dengan ternak Allah? Mereka memberi nama kepada sang ternak, suatu indikator kedekatan dengan ternak.

Di saat hubungan mesra dengan babi terjalin baik, disanalah manusia dan ternak babi hidup damai, sehat dan sejahtera. Sebalaiknya disaat manusia serakah terhadap bumi, bumipun benci bahkan mengutuk dan menyerang manusia. Keserakahan manusia terhadap babi, babi pun mengutuk dan menyerang manusia. Bila manusia tidak menghiraukan Firman Tuhan, untuk tetap membawa kabar baik bagi seluruh ciptaan (Mrk 1615) maka ciptaanpun tidak akan memberi damai bagi manusia

Sekali lagi, Di saat manusia tidak peduli dengan babi, mengobjekkan babi menjadi alat mencari keuntungannya semata, menginginkan dagingnya hanya untuk menjadisantapan semata. Disana lah babi akan membenci dan menyerang manusia. Memberikan pakan (makanan) alami yang ramah lingkungan, dengan mengoptimalisasi local resourcess (sumber yang ter sedia) tanpa import pakan dari luar negeri yang ternyata local resourcess mampu memberi akses, sebab bumi Indonesia yang t ercinta ini kaya akan sumber daya alamnya yang lebih sehat, beruntung dan berkelanjutan, menjaga kandang babi tidak lembab dan becek ban bagaikan kubangan, meminimalisasi pakan industri yang tidak bermutu, memberikan faksin yang teratur agar kebal terhadap serangan penyakit, adalah aksi nyata dan bukti bahwa kita peduli babi. Bila ini tetap kita pelihara maka babi babi kitapun akan sehat, dan kebal terhadap serangan apapun dari luar,


Tegasnya kasih sayang kita terhadap ternak babi, babi akan kebal dan tidak akan teserang virus H1N1, terserang flu babi. Babi akan kebal, sehat, lestari dan akan memberikan keuntungan yang wajar bagi manusia pemeliharanya.

Diskusi dan Latihan Ternak Babi Sistem Korea Atasi Flu babi

Seahubungan dengan itu, untuk memberdayakan para peternak babi bergulir dan peternak babi dampingan Pengmas HKBP, Sekitar 50 0rang peternak babi di HKBP Ressort Kota Baru tebing tinggi distrik Tebing tinggi, yang dipimpin oleh Pdt.Adian Pasaribu, pada tanggal 13 April 2000 Pengmas HKBP mengadakan diskusi bagaimana memelihara ternak babi ramah lingkungan. dengan sistem Korea, Membuat kandang dari serbuk gergaji, dengan campuran estrak jus pisang, kangkung dan pepaya dicampur dengan IMO (indegeneous Micro Orgsanisma) yang ditangkap dari bawag pohon bambu. Bagaimana menangai penyakit dan penanganan disaat melahirkan. Bagaimana mengoptimalkan pekarangan menjadi akses makanan bergiji bagi ternak.


Tidak kettinggalan sekitar 10 orang utusan peternak dari HKBP Karasaan Ressort Karasaan berlatih bagaimana mengemas jus pisang, kangkung (andor) dan pepaya serta menangkap IMO dengan sistem kotak di SLP (Sekolah Lapangan Petani) SIRA Tigadolok Jalan Parapat Tigadolok, seusai berlatih para utusan membawa pulang hasillatihannya untuk di praktekkan pada tanggal 8 Mei 2009 di lahan mereka.

Ternak Dan Padi Organik

Sinur Napinahan gabe naniula, memang tanpa ternak, mustahillah pertanian akan survive, untuk itu peran ternak babi sangat dibutuhkan untuk menciptakan pertanian yang organik, bebas kimia pestisida, sehat, beruntung dan berkelanjutan. Untuk itu sekitar 100 orang peternak dan Petani padi seusai minggu, mengadakan diskusi dengan Pengmas HKBP. Bagaimana mememelihara ternak babi ramah lingkungan berkombinasi dengan padi organik, menjadi topik pembahasan pada diskusi di HKBP Muara Mulia yand dipimpin oleh Pdt.. Allah yang kita kenal juga adalah Allah yang memiliki taman (Porlak) namanya Eden. Arti Eden: Sorak sorai, sejahtera, hasonangan. Kita sama sama memiliki porlak dengan Allah, sebenarnya kita boleh sebutkan Allah yang kita kenal Allah teman satu serikat parporlak (petani). Namun bedanya porlak kita terkesan porlak hasusaan, karena kita tidak pernah memperoleh keuntungan maksimal dari apa yang kita olah.


Kombinasi antara ternak dan pertanian kita lihat di Porlak Eden. Bila lahan yang kita oleh bercermin dari Porlak Eden, dimana ternak dan pertanian terkombinasi maka di sana pertanian kita akan lebih mandiri, kompos dan pestisida dari luaran tidak perlu, sebab kotoran ternak tersedia menjadi kompos yang cukup berharga bagi pertanian kita. Persoalan sekarang bagaimana kita mengolah kompos yang baik agara pertanian padi kita sehat, beruntung dan berkelanjutan ?. Untuk itu kembalilah memelihara ternak babi system korea atau system tradisional dengan mengemas makanan bergizi dari sumber daya local yang tersedia.

Seusai memberikan teori bagaimana menanam padi system SRI (System Rice Intensification) dan IPAT-BO, mengolah sawah dengan jarak 30-50 cm, benih diseleksi dengan larutan garam, kemudian direbus dengan suhu 60 derajat celcius selama 5 menit, Praeses distrik Tanah Jawa Pdt.Tendens Simanjuntak, mendorong warga agar menerapkan kedua system ini dilahan petani kita. Menanam padi SRI-IPAT BO, serta memelihara ternak babi system Korea yang ramah lingkungan ini, .

Lebih jauh Praeses Tendens, mengatakan, jangan takut dengan issu flu babi, Penyakit flu babi adalah penyakit luar negeri, yang musimnya dipengaruhi musim es (salju), tempat kita daerah panas, virus sulit berkembang di daerah panas, tandasnya. Kebijakan pemerintah untuk import babi dari luar negeri., mengurangi bea impor hendaknya menjadi pertimbangan, sebab disamping tidak akan menghidupkan dan menggalakkan ekonomi kerakyatan, juga akan lebih mempercepat masuknya virus ke dalam Negeri ini. Untuk itu pengawasan bandara dan karantina hendaknya diperketat. Disamping itu Hendaknya issu flu babi ini, tidak dibesar besarkan dipolitisi menjadi politik ekonomi, demi penghalalan segala cara untuk mem bumi hanguskan tenak babi dari bumi yang kita cintai ini. Memang kewaspadaan semua stake holder teramat diperlukan, tetap memelihara hubungan dan komunikasi yang baik, dan memberi yang terbaik juga bagi bumi dan babi. Demi menguatnya ekonomi kerakyatan, dan demi terciptanya bumi yang baik, demi sorak sorai, sehat sejahtera dan demi kemuliaan nama Tuhan demikian Pengmas HKBP mengakhiri diskusinya.

Disampaikan Oleh : Pdt.Rein Justin Gultom,STh (Direktur Pengmas HKBP)

April 14, 2009

Refleksi Diakonia FM Pematangsiantar.

Pada hari Minggu lalu 21 September 2008, bertempat di Aula Asrama SMK HKBP jalan A.Yani Pematangsiantar dilakukan pagelaran pertemuan fans Radio Diakoni FM 107,8 mhz dengan para fans dan dihadiri oleh komunitas ’suara nafiri Polresta Pematangsiantar’, Direktur Pengmas HKBP Pdt Rejustin Gultom Sth, Pdt Pardede pengelola radio komunitas ini. Acara ini diisi dengan pagelaran Suara Nafiri Polresta Pematangsiantar.

Pertemuan ini, merupakan refleksi perjalanan radio Diakonia yang sudah berlangsung hampir satu tahun dikemas dalam bentuk acara rohani yang diawali dan diakhiri dengan ritus gerejani. Tujuannya adalah agar radio Diakonia dapat memperoleh masukan-masukan untuk pengembangan kapasitas lebih lanjut.

Dalam kegiatan ini digelar acara perkenalan dari para crew dari Diakonia FM dan masing-masing mencetuskan isi hatinya, beberapa diantaranya adalah :

1. Pengelola teknis radio Diakonia FM, menyatakan secara gamblang bahwa : Pada awalnya saya sungguh tidak bisa membayangkan bahwa sebuah komunitas yang demikian besarnya tidak mempunyai radio komunitas. Kenyataan inilah yang menjadi inspirasi dan motivasi bagi saya untuk mewujudkan radio Diakonia FM. Perencanaan mendirikan radio komunitas ini telah direncanakan sejak tahun 2002, namun terus tertunda-tunda dan hanya menjadi bahan diskusi dalam berbagai pertemuan, kemudian dibicarakan lagi pada tahun 2007 dan baru dapat diwujudkan pada awal tahun 2008.
2. Penyiar radio, menceritakan suka-duka dalam menjalankan tugas penyiaran tanpa dukungan ‘kebutuhan dasar esensial’ dan tanpa insentif yang jelas.

Tanggapan dan Saran dari fans :
  1. Tentang kualitas penyiaran dan jadwal yang tidak teratur.
  2. Membentuk komunitas fans yang nantinya diharapkan akan menjadi salah satu sumber pembiayaan, ataupun membuat kotak donasi.
  3. Pengusulan pembiayaan dari HKBP Pearaja dan Pemerintah Kota Pematangsiantar.

Tanggapan :
Saya mengikuti dan berpartisipasi dalam perkembangan radio Diakonia ini sejak awal yang dimulai dengan keprihatinan namun dengan semangat yang kuat. Pada saat peresmiannya satu tahun yang lalu saya menyampaikan apa yang tersirat didalam hati saya yang menjadi pengharapan saya terhadap missi dari radio komunitas ini. Pada saat itu saya mengutip sebuah kisah dari Kitab Keluaran Injil Musa tentang Yoshua menaklukkan dan meruntuhkan tembok Yerikho hanya dengan tiupan nafiri dan sangkakala. Demikianlah pengharapan saya, bahwa radio komunitas Diakonia FM menjadi sangkakala yang akan meruntuhkan keangkuhan, kesombongan dan kegelapan didalam hati kita pada khususnya dan dikota Pematangsiantar ini. Tentu dengan firman dan kidung Tuhan.
Pada beberapa bulan yang lalu, saya mengunjungi radio ini. Saya prihatin dengan berbagai keterbatasan fasilitas bagi crew dan termasuk keterbatasan teknis (daya jangkau siaran), dan inilah yang saya usulkan kepada Pimpinan Departemen HKBP di Pearaja Pendeta Nelson Siregar Sth.

Kini, dengan segala keterbatasan ini tentulah radio Diakonia tidaklah mampu menjadi ‘nafiri dan sangkakala yang meruntuhkan tembok Yerihko’ tetapi hanyalah suara jengkrik ditengah malam,…. Namun Puji Tuhan,…. Fansnya telah semakin membanyak dan inilah yang saya lihat pada hari ini, pertemuan kita ini harus dilakukan diruangan yang besar. Puji Tuhan,………. Potensi inilah yang seharusnya diperhatikan oleh pihak Pengmas HKBP.

Saya memahami pertanyaan pertanyaan yang disampaikan oleh fans, tentang pembiayaan dengan HKBP-Pearaja, dengan Pemda, dengan NGO Emergency Caritas. Kemudian kita sama-sama mendengar bahwa ada cerita pemecatan. Kenapa,………….? Kelembagaan dari Diakonia FM belum ditetapkan secara definitif oleh pihak yang mempunyai otoritas di HKBP Pearaja. Tentu saja dengan kelembagaan yang belum jelas niscaya capacity building dapat terlaksana.

Pada suatu kunjungan ke Radio ini saya membawakan beberapa keping CD yang berisikan berbagai lagu-lagu ‘christian-themed’ dan saya memperoleh respon bahwa ini boleh dan itu tidak boleh, dengan determinan tidak jelas sama sekali, sedang menurut seorang teman yang berkedudukan di Pearaja menyatakan bahwa HKBP tidak tertutup terhadap Christian comtemporary musik.

dikutip dari : taradigadingdangdong.wordpress.com

Evaluasi Reforestrasi & Sosialisasi Arc-HKBP


"Kusakiti Engkau Sampai Perut Bumi"
(Sebuah Evaluasi Reforestrasi (reboisasi) dan sosialiasi, bersama Ani Kartikasari, Konsultan Allience Religion Conservation (ARC) dan Pengmas HKBP)
Di Samosir, 4-7 Mei 2005


Pengantar

Allience Religion Conservation, (ARC), Aliansi agama agama dan konservasi, yang pusatnya di Meinsester (Inggris), Mei 2004 tahun yang lalu menjalin program dan kerjasama dengan HKBP lewat Pengembangan Masyarakat (Pengmas HKBP). Implementasi kegiatan dan aksi nyata diadakan dalam bentuk kegiatan Reboisasi (konservasi alam) di Samosir diadakan di 4 lokasi, seprti: Penanaman 1200 pohon produktif (dalam berbagai jenis) di Onanrunggu 2-3 Oktober 2004 yang lalu, 500 batang pohon di Pintusona (22 Agustus 2004), sekitar 10.000 di Simarmata (12-14 Nopember 2004) dan 5000 batang pohon di Tigaras 19-20 Desember 2004 yang lalu, di samping ibadah dan seminar ekologis. Kunjungan Konsurltan ARC, Ani Kartikasari kali ini bersama Pengmas HKBP, untuk Evaluasi kegiatan tahap perdana dan dan sosialisasi reforestrasi untuk tahap kedua yang direncanakan akan diadakan bulan September dan Oktober 2005 di Smosir, di samping itu ARC bersama Pengmas membangun kerjasama dengan beberapa Gereja, LSM dan Mahasiswa, telah diadakan pada 4-7 Mei 2005, seperti di HKBP Distrik VII Samosir, di HKBP Kornel Distrik V Sumatera Timur, bersama Mahasiswa Pannes kenegerian Simarmata, dengan KALI (Konservasi Alam Lingkungan Hidup) di Medan 6 Agustus 2005. Berikut saripati dari substansi kunjungan dan sosialisai.

Kerusakan Alam yang semakin parah

Lirik dan lagu Sherina, “Tuhan marah kah kau padaku, inikah akhir duniaku…kusakiti engkau sampai perut bumi”, Substansi lagu ini, benar benar mengintatkan kita untuk setiap saat intropeksi dan mengevalasi hubungan dengan alam ciptaan Tuhan yang baik ini. Gempa bumi memang gejala alam yang tidak bisa dihindari, tetapi persoalan sekarang, apakah kita ikut memperparah situasi alam, menyakiti alam hingga perut bumi, yang akibatnya mengakibatkan malapetaka bagi sesama mahluk? Bencana telah terjadi dimana mana. Pohon dalam fungsi ganda, disamping pengembangan ekonomi rakyat, dan sejuk yang menyehatkan, juga akarnya yang teramat perlu untuk menahan deru angin dan terpaan ombak longsor, banjir. Sehingga mahluk selamat dari goncangan yang mencelakakan . Namun teganya insani membabat habis pe pohonan, demi meraup untung maksimal tidak perduli akan dampak minusnya bagi sesama mahluk. Akar pepohonan yang saling berpaut, yang juga tumbuh di tepi pantai akan mampu menahan arus dan kencangnya benturan dan ombak, sehingga mahluk akan selamat dari ancaman bahaya, namun seiring dengan kemajuan tehnologi dalam jaman neoliberalisme, tega nian dengan pondasi pondasi batu, yang ternyata kekuatannya pondasinya lemah dibanding dengan akar pohon yang saling terpaut? Sampaikapankah kita ikut menyiksa dan tidak perduli dengan jeritan alam yang semakin rusak parah ini?

Ikut dalam arak arakan penyelamatan alam.

Adanya pemikiran yang masih terukir dalam benak sekelompok agama: “ urusan mengurus tanah air dan sumber daya alam bukan urusan agama, itu adalah urusan pemerintah. Tugas kami cukup dalam urus rohani saja”, asumsi ini yang memacu insani absen dalam arak arakan penyelamatan lingkungan, demikian Ani Kartikasari dalam Evaluasi dan sosialisasi reforestrasi, konsultan Alience Religion Conservation (ARC) Pada pertemuan di distrik VII Samosir bersama Pengmas HKBP yang didampingi Pdt. Jhony Sihite, Pdt. Parinsan Simanungkalit dan Dolom Sinambela, mengambil tempat di HKBP Simbolon Ressort Simbolon yang dihadiri oleh unsur pelayan Distrik dan warga sekitar 32 orang.

Tapi benarkah demikian? Bukankah dalam ajaran Alkitab, Alquran, Hindu dan Budha dan agama agama lain, jelas sekali bahwa panggilan untuk melestarikan lingkungan., memelihara menjaga lingkungan supaya tidak rusak adalah tugas setiap orang yang beragama. Tetapi sebagai orang yang diselamatkan, kita harus mempembaharuan pola pikir kita, pola tindakan kita, rela bekerja sama dengan orang lain (stake holder), yang mendapat kekuatan dan enerji ketakuatan Yesus Kristus untuk turut menyelamatkan alam sebagaimana Kristus yang rela mati demi penyelamatan akan alam juga? Tugas ini tidak bisa ditawar tawar melihat kondisi kerusakan alam saat ini yang tinggi intensitas kersukannya tidak bisa dibiarkan namun harus ditanggulangi, lanjut Ani Kartika Sari, yang masih menekuni S3 dalam ilmu Konservasi Alam dan Satwaliar di New Zealand akhir ini.

Lagi lagi Kartikasari dalam pertemuan dengan koordinator reboisasi di HKBP Ressort Simarmata yang dipandu oleh Pendeta HKBP Ressort Simarmata Pdt. Robert Silaban dihadiri 12 koordinator lapangan dari HKBP Sangkal, HKBP simarmata, HKBP Malau, Hutaginjang, dan HKBP Simanindo.

Kita terpanggil sebagai berkat. Benar kita tinggal di dalam dunia ini hanya untuk sementara waktu saja. Alam dimana kita tinggal adalah rumah kita untuk sementara waktu, oleh sebab itu. Kita berada di dunia ini demi tugas, menjadi berkat buat alam, dimana kita tinggal. Alam adalah rumah yang telah dipercayakan Tuhan bagi kita. Rumah kita yang kecil ini, kini menderita.

Bencana alam pasti itu bagian dari proses alam yang kita tidak bisa cegah, namun tragisnya tindakan manusia berdosa lebih mempercepat dan memperparah kejadian itu dimanamana, kita lihat sendiri penabangan hutan yang merajalela, pembuangan limbah semena-mena pencemaran air yang terjadi dimana mana, .pembuangan sampah pelastik meracuni tanah, penyedotan minyak tanpa kenal ambang batas, penambangan yang tidak pernah kompromi, semuanya melukai perut bumi tidak bisa busuk, ulah keji dan tindakan yang tidak terpuji.

Semua agama terpanggil untuk menjadi sama seperti Kristus, (Efesus 4), di bumi rumah kita ini kita berlatih dan diperlengkapi agar kita sama seperti Kristus, yang walau dalam titik darah penghabisan Dia terpanggil menyelamatkan dunia ini, bumi, alam dan segala isinya (Yoh 3:16). Pada acara Minggu yang dipimpin oleh Pdt. Reinjustin Gultom, Direktur Pengmas HKBP, Pesan Kebangkitan, bahwa kita terpanggil menyampaikan tugas profetis kepada semua mahluk, bersahabat dengan alam. Sehingga bumi, alam dan segala isinya bersukacita dan bersorak sorai.

Semua orang harus berperan

Mempercayakan pemerintah semata dalam kegiatan reforestrasion, rasanya tidak tepat, sebab disamping kurangnya sumberdaya pemerintah, minim dan bahkan tidak adanya dana anggaran pemerintah dalam reboisasi, membuat kegiatan ini terbenam, demikian Ani dalam pertemuan di HKBP Ressort Simbolon, Untuk itu Seusai kunjungan di Samosir, ARC dan Pengmas HKBP pada pertemuan di Tornauli Parapat 4 Mei 2005 yang dihadiri ARC dan sekjen HKBP akan tetap melanjutkan aksi reboisasi September 2005 ini, sesuai yang disepakati pada Mei 2004 yang lalu, tanpa pernah melupakan peran dan partisipasi rakyat.

Sebelumnya aksi ini akan diawali Pelatihan dan pemberdayaan dan penguatan pengetahuan dan pembobotan teknis, teknis menyeleksi, memilih dan mengadakan pembibitan yang baik. Penanaman jenis bibit bibit lokal yang sekian lama ada, dirasa cocok dan tepat kembali dibudidayakan, dalam waktu dekat ini, pelatihan pembuatan kompos, penyediaan lahan pembibitan di Samosir dan perencanaan perpustakaan khusus di Samosir mengenai tanam tanaman.

Pada Pertemuan dengan Mahasiswa Pannes Kenegerian Simarmata di xl Jalan Singa Medan, dan pertemuan dengan KALI (konservasi Alam dan lingkungan) yang diketuai oleh Ir Jimmi Panjaitan di jalan Terompet Medan, juga Pengmas dan ARC membangun kerjasama ke depan dalam aksi reforestrasi demi pelestarian dan penyelamatan lingkungan ini.

Rekomendasi pertemuan itu agar para pendeta diberi pemahaman tanggungjawab sebagai gembala dalam melestarikan lingkungan. Dan pembenahan kurikulum pendidikan khususnya sekolah pelayan, untuk memuat kurikulum “lingkungan hidup”, karena suatu ketika para pelayan akan memasuki desa, tukas Ani Kartika mengakhiri kunjungannya di Sumatera, semoga.

Pdt.Reinjustin Gultom, Direktur Pengmas HKBP