Mei 14, 2009

Gerakan Ekonomi Warga HKBP

Model Ekonomi Gereja di saat para missionaris “Disana ada gereja, disana klinik, sekolah, pertanian dan peternakan berwawasan lingkungan, kegiatan simpan pinjam ”, demikian Kepala Departemen Diakonia, Pdt.Nelson Siregar, dalam sessi Gerakan ekonomi Warga HKBP dalam Pelatihan Pertanian, Peternakan dan Credit Union di HKBP Kebun Kelapa 14-15 Mei 2009. Namun Gerakan ini seolah olah memudar, pradigma pelayanan gereja terkesan internal dan ceremonial demikian Kadep Departemen Diakonia di hadapan 65 orang peserta lebih jauh menandaskan. Ke 65 peserta terdiri dari masing masing utusan 6 Gereja dari Cabang Ressort Kampung Pon yang dipimpin oleh Pdt.Hotler Sihombing Lumbantoruan yakni: HKBP Kampungan Pon, HKBP Kekebun Kelapa, Hapoltahan, Pardomuan Nauli dan Seiperiuk, dan Kampung Baru

Gerakan ekonomi warga jaman missinonaris ini mau tak mau mestinya tetap dipertahankan dan diterapkan di tengah pelayanan Gereja saat ini, di tengah kondisi dan tantangan Globalisasi (pasar bebas) yang bercirikan tanpa batas negara, merusakkan kearifan lokal dan nasionalime. Stratetegy dalam 4i : individual, infromasi lintas negara dan bangsa, industri dan investasi. Ekonomi seperti ini telah menyengsarakan rakyat dan bukan berpihak kepada rakyat. Untuk itu, Menggalakkan Ekonomi yang memihak rakyat, sebagaimana Kristus yang berpihak dan mendengar jeritan umatNya, harus nyata di tengah pelayanan Gereja kita sekarang. Terus membangun CU/CUM dan pertanian Organik untuk mengimplementasi Firman Tuhan dalam Yer 29:7, Rom 12:2, 2 Kor 8:15 dan Kis 2:34-37, segera harus diwujudnyatakan. Gereja segera harus mendoakan dan mensejahterakan warga kota/desa, sebab bila kota desa sejahtera pasti Gereja juga akan sejahtera, bila masyarakat sejahtera makan negara juga akan sejahtera, katanya.

Aksi nyata dan tindakan Kongkrit

Untuk tidak hanya sekedar kenangan dan pemadatan kognisi, serta live service dan debat kusir semata, maka pada pelatihan yang dibuka oleh Pdt.Hotler Sihombing, yang mengambil teks Alkitab dari Mark 6:32-45, tentang lima roti dan dua ikan, sumber daya lokal yang tersedia, nampaknya kecil dan tidak berharga untuk memenuhi kebutuhan 5000 orang warganya, namun berkat Allah, sumber daya lokal 5 roti dan 2 ikan mempu menjawab kebutuhan umat. Pendeta Ressort Kampung Pon dalam memotivasi warganya untuk keluar dari persoalan kemiskinannya. Optimalisasi sumber dayanya yang tersedia harus diadakan tukasnya pada petaltihan Dua hari di Kebun Kelapa, Ressort Kampung Pon yang pada 10 Mei lalu mengadakan MBO (Mameakhon Batu Ojahan) dan Mangompoi yang dipimpin oleh Ompu I Ephorus Pdt.Dr.B.Napitupulu


Untuk mengkongkritkan masukan dari para peserta yang dipertajam narasumber,sekaligus mengimplementasi tugas suruhan Tuhan di tengah dunia ini, maka Biro Pengembangan Masyarakat HKBP pada 2 hari pertemuan ini, yang turut dalam diskusi pertanian dan Peteranakan Organik, serta Latihan Credit Union yang dipandu oleh Pdt.Jhony Sihite dan Pdt.Reinjustin Gultom. Berhasil membangun kelompok tani dan dan Credit Union HKBP Ressort Kampung Pon yang terbentuk di dalam terang Yer 29:7 dengan nama” “Diakoni sejahtera” untuk sementara beranggotakan 65 orang, yang dipimpin oleh Koordinator Umum sementara: Robinson Tampubolon, wkl: Jontar Sianipar sedangkan Koordinator wilayah yang ditetapkan seperti: di HKBP Kampung .Pon: Sairing Simamora,SE, Zamrud Purba, Hapoltahan: Leonardo Sianturi,Natal Elman Butar butar, PardomuanNauli: St.Maringan Pasaribu, Liston Sipahutar, Seiperiok: Rantogi Situmorang, Jonganter Sitinjak, Kebun Kelapa: st.Hotnar Manalu, St.Harlen Silaban

Untuk mengembangkan kapasitas akan arti pentingnya organisasi petani menghadapi tantangan globalisasi, serta meningkatkan keahlian warga untuk membenahi lahan pertanian dan peternakan juga membicarakan kelembagaan organisasi lebih profesional, visi, missi serta program 3 tahun ke depan ini, maka Kelompok Diakoni Sejahtera pada tanggal 25 Mei 2009 ini akan mengadakan orientasi dan pelatihan pertanian peteranakan dan rapat kelembagaan di Sekolah Lapangan Petani (SLP)-SIRA tigadolok.

Harapan kita semoga kegiatan ini dapat mengangkat serta meningkatkan keterpurukan ekonomi di tengah tantangan arus globalisasi ini, yang semakin memperbudak wargakita dilahannya sendiri. Semoga model ekonomi Gereja yang digagas para missionaris tidaklah tinggal kenangan yang terukir dalam sejarah kenangan masa lalu, tetapi kembali kita terapkan kini, untuk mengangkat ekonomi warga kita.

Mencari Untung Dari Lahan Pekarangan Sempit , Mungkinkah?

Acap orang tidak percaya bahwa lahan sempit tidak akan dapat diperoleh untung maksimal, siapa bilang ??? di pekarangan rumah yang sempit sekalipun, bila dioptimalkan akan mengjhasilkan untung yang maksimal. Bila tidak yakin, silahkan saja berkunjung ke Desa Purbasari Kecamatan Siantar Utara Kabupaten Simalungun. Desa ini hanya berjarak tempuh sekitar 15-20 menit dari pusat kota Pematang Siantar. Bila kita menuju medan lewat Sinaksak, berjalan sejauh kira kira 1 Km ke arah kanan, maka kita akan tiba di tempat ini. Sebuah gedung gereja besar HKBP Purbasari Ressort Bombongan Distrik Sumatera Timur, berada di tempat ini. Gereja besar ini dibangun oleh sekitar 50 kk warga Gereja kita yang juga menggantungkan hidup dari bertanam sayur organik di tempat ini. Gereja yang masih tersusun dari batu bata ini, belum diplester, masih butuh waktu dan dana dan uluran tangan untuk meyelesaikan pembangunannya.
Sekitar 50 kepala keluarga (KK) warga yang mendiami desa ini, menanam sayur (kangkung, sawi dan bayam ) organik di tempat ini. Mereka hanya memiliki kurang dari 10 bedegan (1 bedengan 1,5 x 30 m) namun mampu mengoptimalkan pekarangan rumahnya yang sempit ini untuk mencari untung yang besar. Kalau kita berhitung untung 1 bedengan yang ditanami sayur ini akan menghasilkan 300 ikat sayur organik. 1 ikat seharga Rp 500-1000. Dalam 1 bedengan mereka memperoleh untung Rp 300x500 = Rp 150.000, dalam waktu 21 hari. Kalau kita kalikan dengan 10 bedengan: 10x150.000 = Rp 1,500.000 dalam 21 hari. Untung sebesar ini hanya memerlukan 5 sendok makan benih bayam atau 2,5 sendok benih sawi yang dibenihkan sendiri, dan 5 sak kompos kotoran ayam.

Lebih jauh St.L.Nainggolan, yang menjabat guru huria di HKBP Purbasari ini, yang juga berhasil memperoleh untung dari tanaman sayur di lahan pekarangan sempit ini menjelaskan bahwa bercocok tanam sayur organik ini sangat sederhana: „mengolah bedengan 1,5x30 cm dengan jarak antar bedengan 30 centimeter. Diantara bedengan dibuat drainage (parit) supaya tidak banjir dikala musim hujan. Bila bedengan telah siap diratakan taburkan kompos pupuk awal, kemudian ambil 5 sendok makan benih bayam, masukkan ke sebuah ember yang sudah dicampur dengan tanah kering, pasir dan kompos, campur sehingga benih menyatu dengan pasir dan kompos di dalam ember. Kemudian tabur secara merata sepanjang lahan yang sudah diolah. Siram 1x1 hari sampai basah. Dan bila sudah tumbuh selama 4 hari, cukup disiram 1x2 hari atau 1x3 hari. Supaya kita tidak kewalahan menampung air, gali tempat penampungan air dari kamar mandi, dekat ke lahan sayur, gunakan aiar yang terbuang dari kamar mandi, untuk menyiram sayur setiap hari. Menyemprotkan pestisida Organik cukup dengan 2 kali, umur 1 hari dan 4 hari. Gampang bukan? Hanya dalam 21 hari kita akan mengantongi untung Rp 1,5 juta”, tukasnya bangga. Untung ini pasti lebih besar lagi kalau kita membuat sendiri pestisida dan kompos organik kita.

Yang luas yang kurang beruntung?

Banyak pemilik lahan luas mengeluh karena tidak pernah beruntung. „Amangoi amang....so niantusan be ngoluon“, demikian keluhan inang inang petani, berdiskusi dengan Pengmas HKBP baru baru ini. Setelah Pengmas menaya balik: „kenapa inang mengeluh? Si inang yang memang memiliki lahan luas di desa dolok Marlawan kecamatan Jorlang Kabupaten Simalungun itu menjawab: „Tikus keparat, ongkos ongkos produksi pertanian, pupuk, pestisida, biaya pengolahan, dan sebagainya dan sebagainya harus dikeluarkan sementara hasil pendapatan tidak seberapa, panen tidak pernah maksimal, kita terbelit hutang katanya“

Orientasi ke lahan sempit yang beruntung

Guru huria HKBP Gr.Ramses Manurung, yang kini menyelesaikan studynya di STT HKBP menjabat menjadi guru huria di HKBP Dolok Marlawan Ressort Dolok Marlawan Distrik Sumatera Timur melirik persoalan para warga, yang mayoritas petani ini. Puluhan hektar tanah terhempar luas namun banyak dari mereka yang miskin dan kurang beruntung. Kurang mampu memaksimalkan lahan dan pekarangannya untuk memperoleh untung besar. Walau mayoritas memiliki lahan luas mereka terbeban dan terbelit hutang karena permainan kapitalist neoliberalist, rentenir dan industri. Sebanyak 30 orang warga HKBP Dolok Marlawan berhasil diorganiser dan dipandu oleh Gr.Ramses Manurung bersama Pengmas HKBP pada 12 Mei 2009. Mereka mengadakan Orientasi sayur Organik ke lahan petani yang berhasil, warga HKBP Purbasari Ressort Bombongan Distrik Sumatera Timur, Kabupaten Simalungun. Oreintasi ke lahan Sayur organik, dikemas dengan kunjungan dan diskusi yang dipandu oleh St.Nainggolan, guru huria HKBP Purbasari Ressort Bombongan Distrik Sumatera Timur. Orientasi ini dimaksud untuk memotivasi peserta petani yang mengeluh karena keterpurukan ekonomi keluarga, disamping belajar dan mengembangkan wawasannya dengan budidaya tanaman di lahan pekarangan sempit untuk memperoleh untung besar, juga bercocok tanam Organik, kembali ke kompos, dengan meminimalisasi supply luar.

Praktek, berlatih dan membangun Organisasi Petani

Seusai diskusi dan ramah tamah, sebelum doa penutup diadakan tindak lanjut dari pertemuan ini. Ada 3 tindaklanjut yang disepakati: peserta sepakat akan menerapkan dilahan masing masing yang akan dicek dan dimonitoring oleh koordinator sementara, St.pakpahan dan guru Manurung,. Membangun organisasi petani sayur bagi warga HKBP Dolok Marlawan dan Sabtu 23 Mei akan diadakan latihan membuat kompos dan pestisida organik yang dibuat dari sumber daya lokal yang tersedia, agar tidak perlu membeli pupuk yang langka akibat permainan kapitalist dan neoliberalist, yang tujuannya memang mencari untung sendiri. Mempermainkan warga tani kita dan menjadikan petani menjadi budak di lahannya sendiri. Semoga Orientasi ini petani kita semakin memahami persoalan kemiskinannya akibat permainan penguasa, pengusaha kapitalist dan semakin berdaya mencari solusi untuk keluar dari persoalannya sendiri. Semoga

Oleh : Pdt.Rein Justin Gultom,STH

Mei 06, 2009

Orientasi Ke Malang Jawa Timur

HKBP telah menetapkan tahun 2009 tahun Diakonia HKBP dalam terang sub thema: usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu kubuang dan doakan sebab kesejahteraan mereka adalah kesejahteraahnmu juga (Yer 29:17).

Pradigma Pelayanan Gereja yang terkesan sekian lama, pradigma pelayanan internal, rutinitas dan lebih kepada tugas pelayanan ceremonial. Hal ini hendaknya berubah, kepedulian dengan sesama manusia yang menderita, sengsara, miskin, papa, korban ketidak adilan, hendaknya menjadi fokusperhatian perdana. Alam serta seluruh ciptaan yang hampir diambang kepunahan,
hendaknya turut mendapat perhatian. Sehingga bumi dan seluruh ciptaan Tuhan bersoraksorai, damai di sorga juga ada di bumi. Untuk itulah mengimplementasi tugas suruhan Tuhan, mewujudkan damai di bumi di samping peduli warga dan alam ciptaanTuhan, peningkatan tingkat kesejahteraan warganya serta membangun soraksorai,dikemas beberapa kegiatan seperti apa yang dipaparkan dalam buku panduan DiakoniaHKBP 2009.
Rasanya motivator terampil sungguh diperlukan untuk pelayanan mendorong serta memberdayakan dan menguatkan warga di berbagai desa, wilayah dan berbagai tempat.Untuk itu Kepala Departemen Diakonia HKBP, Pdt.Nelson Siregar, memberangkatkan 6Orang utusan pada 20-26 April 2009 orientasi Ke Malang Jawa Timur, dibantu olehBapak Manik.. Mereka yang diberangkatkan adalah Sekretaris Caritas EmergencyPdt.Eden Siahaan, Pdt.Samuel Sihombing, Pdt.David M Simatupang dari HKBP RessSidikalang VI, Pdt. B.Nababan Pdt HKBP Ress Sukandevi, Distrik VI Dairi, DuatSihombing Staf Petrasa Dairi Sidikalang, Direktur Pengmas HKBP, Pdt.ReinjustinGultom, dan Bendahra Pengmas HKBP Pdt.Jhony Sihite. Tujuh Orang yang diberangkatkan orientase ke Malang belajar tentang BBIB (Balai Besar Inseminasi Buatan)Malang, Memelihara ternak Sapi dan Kambing Perah dari pembenihan hingga paskapanen, milk processing, susu pasturisasi, kefir dan fermentase di Unit Peliharaan Ternak(UPT) Malang dan belajar dari peternak kambing kelompok Sumber Rejeki yangbershasil di dusun Tegal Rejo Malang. Biogas kombinasi Sapi dan Kambing diUniverstias Bariwijaya Malang, Agrowisata di Batu Malang dan Home industry diTumpang bekerjasama dengan GKJ (Greja Kristen Jawa) Malang.
Di celah celah dan di penghujung orientasi ke tujuh peserta menghadiri jamuan makandari warga dan parhalado HKBP Ressort Malang serta ibadah minggu bersama warga,sembari mengalunkan koor diakonia yang berjudul “O Sion Nauli Tongam do Ho”,sementara khotbah minggu di HKBP Malang disampaikan oleh direktur PengmasHKBP, Pdt.Reinjustin Gultom, dalam refleksi kotbah dari Mika 7:14-20, Allah yang kitakenal adalah Allah yang berbelas kasih. Dia dalam Yesus hingga mengorbankanhidupnya sampai pada tetes darah penghabisdan agar semua orang dan ciptaan lainnya,tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal (Yoh 3:16). Yang sudah menerima berkat
dan belaskasih, ditunggu dan dituntut menjadi saluran berkat bagi semua orang dan seluruh ciptaan. Kemiskinan yang kian membengkak, adalah akibat kebijakan penguasadan pengusaha yang tidak berpihak kepada rakyat kecil. Membengkaknya hutang sekitar2 milliar, malah kita disebut si juara satu berhutang di ADB (Asian Development Bank),kini setiap orang telah memiliki hutang Rp7,7 juta/orang semenjak dari kecilnya,bukankah ini kebijakan yang semakin mempermiskin rakyat?. Lihat pemanasan globalyang menjadikan bumi diambang kepunahan. Krisis financial semakin menciptabanyaknya pengangguran, dsb. Banyaknya manusia “homo homini lupus” serigala bagisesama, mengobjekkan manusia dan ciptaan lainnya demi mencari keuntungan dirinyasemata. Hiduplah menjadi berkat, berbelaskasih, berbagi bagi setiap orang dan seluruh ciptaan,supaya bumi, manusia dan semua ciptaan damai, sejahtera, sorak sorai ada di bumiseperti di sorga. Harapan kita mereka yang diberangkatkan ini akan menshare ilmu dan
keterampilan yang mereka peroleh berbagi dan menjadi berkat bagi warga, sehingga warga berdaya dan mampu keluar dari persoalan kemiskinannya sendiri. Yang diperolehhendaknya diimplementasi diterapkan di tempatnya, demi peningkatan tingkatkesejahteraan bagi rakyat., membangun sorak sorai bagi seluruh ciptaan dan demikemuliaan nama Tuhan, Kita tunggu.
Oleh : Pdt. Reinjustin Gultom (Direktur Pengmas HKBP)

Mei 05, 2009

Pengmas HKBP & CDS/CDRM Univ HKBP Nommensen Share & Discussion Programs


After introducing Pengmas HKBP to Rev.Totok, director of CDS/CDRM through cellular
phone, furthermore, on Mei 3, 2009 Mr totok visited Pengmas HKBP office and Farmer
field school in Tigadolok Simalungun Regency, North Sumatra, Indonesia. In that time
Rev.Reinjustin, director of Pengmas HKBP, shared and introduced the overall activities
of Pengmas HKBP such as: Motivating/organizing, Community Economy Development
(through: Agriculture/livestock, Animal’s offspring, Union Credit (CU), reforestry),
Information/ Networking and Supporting system. And In the other hand Rev.totok
introduced CDS/CDR programs also.

After long sharing and discussion of each its programs, Mr. Rev.Totok and Pengmas
HKBP visited also pilot project of Pengmas HKBP, integrated farming which is
combining with livestock and farmers field school, which is located near pengmas office.
Pengmas also introduced farmer’s field school program activities. This is the place for the
farmer to train how to cultivate organic agriculture and livestock, how to make compost
and organic pesticide, to train how to manage their own money in Credit Union etc.

TO handle the overall Pengmas program activities, Pengmas said that CDS is always
invited as a special lecture to train the participants. Mr Yanto Tampubolon, is then one of
expert of Agriculture from the CDS Univ. HKBP Nommensen, he was invited as a
trainer in Pengmas HKBP and Farmer field school activities. Hopely now and for the
future, it will be going continuously. We hope CDS/CDRM through Mr. Rev.Totok, do
not mind for paying full attention to help and support Pengmas and its all program
activities. Even now farmer Field school still new, which has dedicated by the head of
Diaconi Department of HKBP, Rev.Nelson Siregar, on Augustus 3, 2008, and donated by
LCA/ALWS,. Till now around 60 participants has graduated from the farmers field
school, even it’s classroom not so comfortable to live in. Pengmas always struggle in
order this school will train many farmers, which are never paying attention by the power
and government..

Hoping for the future. Through this school, farmers will go out from its poverty, and the
environment and all God Creature will be rejoice forever.

Pengmas and CDS/CDRM for the future will be take care good relationship and good
networking one another. Rev.Totok also hope that Farmer field school and it’s pilot
project of Pengmas it should be developed for the future, to extend the skill of the people
(participants) to cultivate from “hulu and hilir” (to know how to process from the
beginning: cultivation up to harvesting), he hopes may it is used as a length hand of CDS
to implemented its programs and to apply it’s vision and mission for the people. And
Pengmas HKBP said, that pengmas HKBP will ready as a contact person to help
CDS/CDR to extend their mission and vision, to make the people prosperous and to be
glorify of God, who created their creation.

Mei 04, 2009

BETERNAK BABI SISTEM KOREA DAN FENOMENA FLU BABI

Sungguh Allah menciptakan dunia ini dengan baik, tiada cacat satu apapun. Dia menciptakan semuanya baik, sehat walafiat , tiada satupun yang cacat dan sakit, termasuk ternak babi (Kej 1:31). Adam dan Eva yang ditugaskan Allah untuk mengolah taman Eden Allah, lihat keduanya tetap menjalin hubungan yang baik, mesra, dengan seluruh ciptaan Allah, Bukankah Adam dan Eva dekat dengan ternak Allah? Mereka memberi nama kepada sang ternak, suatu indikator kedekatan dengan ternak.

Di saat hubungan mesra dengan babi terjalin baik, disanalah manusia dan ternak babi hidup damai, sehat dan sejahtera. Sebalaiknya disaat manusia serakah terhadap bumi, bumipun benci bahkan mengutuk dan menyerang manusia. Keserakahan manusia terhadap babi, babi pun mengutuk dan menyerang manusia. Bila manusia tidak menghiraukan Firman Tuhan, untuk tetap membawa kabar baik bagi seluruh ciptaan (Mrk 1615) maka ciptaanpun tidak akan memberi damai bagi manusia

Sekali lagi, Di saat manusia tidak peduli dengan babi, mengobjekkan babi menjadi alat mencari keuntungannya semata, menginginkan dagingnya hanya untuk menjadisantapan semata. Disana lah babi akan membenci dan menyerang manusia. Memberikan pakan (makanan) alami yang ramah lingkungan, dengan mengoptimalisasi local resourcess (sumber yang ter sedia) tanpa import pakan dari luar negeri yang ternyata local resourcess mampu memberi akses, sebab bumi Indonesia yang t ercinta ini kaya akan sumber daya alamnya yang lebih sehat, beruntung dan berkelanjutan, menjaga kandang babi tidak lembab dan becek ban bagaikan kubangan, meminimalisasi pakan industri yang tidak bermutu, memberikan faksin yang teratur agar kebal terhadap serangan penyakit, adalah aksi nyata dan bukti bahwa kita peduli babi. Bila ini tetap kita pelihara maka babi babi kitapun akan sehat, dan kebal terhadap serangan apapun dari luar,


Tegasnya kasih sayang kita terhadap ternak babi, babi akan kebal dan tidak akan teserang virus H1N1, terserang flu babi. Babi akan kebal, sehat, lestari dan akan memberikan keuntungan yang wajar bagi manusia pemeliharanya.

Diskusi dan Latihan Ternak Babi Sistem Korea Atasi Flu babi

Seahubungan dengan itu, untuk memberdayakan para peternak babi bergulir dan peternak babi dampingan Pengmas HKBP, Sekitar 50 0rang peternak babi di HKBP Ressort Kota Baru tebing tinggi distrik Tebing tinggi, yang dipimpin oleh Pdt.Adian Pasaribu, pada tanggal 13 April 2000 Pengmas HKBP mengadakan diskusi bagaimana memelihara ternak babi ramah lingkungan. dengan sistem Korea, Membuat kandang dari serbuk gergaji, dengan campuran estrak jus pisang, kangkung dan pepaya dicampur dengan IMO (indegeneous Micro Orgsanisma) yang ditangkap dari bawag pohon bambu. Bagaimana menangai penyakit dan penanganan disaat melahirkan. Bagaimana mengoptimalkan pekarangan menjadi akses makanan bergiji bagi ternak.


Tidak kettinggalan sekitar 10 orang utusan peternak dari HKBP Karasaan Ressort Karasaan berlatih bagaimana mengemas jus pisang, kangkung (andor) dan pepaya serta menangkap IMO dengan sistem kotak di SLP (Sekolah Lapangan Petani) SIRA Tigadolok Jalan Parapat Tigadolok, seusai berlatih para utusan membawa pulang hasillatihannya untuk di praktekkan pada tanggal 8 Mei 2009 di lahan mereka.

Ternak Dan Padi Organik

Sinur Napinahan gabe naniula, memang tanpa ternak, mustahillah pertanian akan survive, untuk itu peran ternak babi sangat dibutuhkan untuk menciptakan pertanian yang organik, bebas kimia pestisida, sehat, beruntung dan berkelanjutan. Untuk itu sekitar 100 orang peternak dan Petani padi seusai minggu, mengadakan diskusi dengan Pengmas HKBP. Bagaimana mememelihara ternak babi ramah lingkungan berkombinasi dengan padi organik, menjadi topik pembahasan pada diskusi di HKBP Muara Mulia yand dipimpin oleh Pdt.. Allah yang kita kenal juga adalah Allah yang memiliki taman (Porlak) namanya Eden. Arti Eden: Sorak sorai, sejahtera, hasonangan. Kita sama sama memiliki porlak dengan Allah, sebenarnya kita boleh sebutkan Allah yang kita kenal Allah teman satu serikat parporlak (petani). Namun bedanya porlak kita terkesan porlak hasusaan, karena kita tidak pernah memperoleh keuntungan maksimal dari apa yang kita olah.


Kombinasi antara ternak dan pertanian kita lihat di Porlak Eden. Bila lahan yang kita oleh bercermin dari Porlak Eden, dimana ternak dan pertanian terkombinasi maka di sana pertanian kita akan lebih mandiri, kompos dan pestisida dari luaran tidak perlu, sebab kotoran ternak tersedia menjadi kompos yang cukup berharga bagi pertanian kita. Persoalan sekarang bagaimana kita mengolah kompos yang baik agara pertanian padi kita sehat, beruntung dan berkelanjutan ?. Untuk itu kembalilah memelihara ternak babi system korea atau system tradisional dengan mengemas makanan bergizi dari sumber daya local yang tersedia.

Seusai memberikan teori bagaimana menanam padi system SRI (System Rice Intensification) dan IPAT-BO, mengolah sawah dengan jarak 30-50 cm, benih diseleksi dengan larutan garam, kemudian direbus dengan suhu 60 derajat celcius selama 5 menit, Praeses distrik Tanah Jawa Pdt.Tendens Simanjuntak, mendorong warga agar menerapkan kedua system ini dilahan petani kita. Menanam padi SRI-IPAT BO, serta memelihara ternak babi system Korea yang ramah lingkungan ini, .

Lebih jauh Praeses Tendens, mengatakan, jangan takut dengan issu flu babi, Penyakit flu babi adalah penyakit luar negeri, yang musimnya dipengaruhi musim es (salju), tempat kita daerah panas, virus sulit berkembang di daerah panas, tandasnya. Kebijakan pemerintah untuk import babi dari luar negeri., mengurangi bea impor hendaknya menjadi pertimbangan, sebab disamping tidak akan menghidupkan dan menggalakkan ekonomi kerakyatan, juga akan lebih mempercepat masuknya virus ke dalam Negeri ini. Untuk itu pengawasan bandara dan karantina hendaknya diperketat. Disamping itu Hendaknya issu flu babi ini, tidak dibesar besarkan dipolitisi menjadi politik ekonomi, demi penghalalan segala cara untuk mem bumi hanguskan tenak babi dari bumi yang kita cintai ini. Memang kewaspadaan semua stake holder teramat diperlukan, tetap memelihara hubungan dan komunikasi yang baik, dan memberi yang terbaik juga bagi bumi dan babi. Demi menguatnya ekonomi kerakyatan, dan demi terciptanya bumi yang baik, demi sorak sorai, sehat sejahtera dan demi kemuliaan nama Tuhan demikian Pengmas HKBP mengakhiri diskusinya.

Disampaikan Oleh : Pdt.Rein Justin Gultom,STh (Direktur Pengmas HKBP)